Narasi Kebencian dan Krisis Etika Komunikasi di Media Sosial: Analisis Wacana Dakwah di Tengah Disinformasi Digital

Fenomena narasi kebencian di media sosial mencerminkan krisis etika komunikasi yang semakin kompleks di era disinformasi digital. Dakwah yang seharusnya menjadi sarana pendidikan moral kini kerap terjebak dalam retorika polarisatif yang mempersempit ruang dialog keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi narasi kebencian dalam wacana dakwah digital serta mengkaji relasinya dengan krisis etika komunikasi di tengah arus disinformasi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Critical Discourse Analysis (CDA) model Fairclough, penelitian ini menganalisis konten dakwah di platform YouTube, X (Twitter), dan TikTok yang menampilkan ujaran kebencian dan bias ideologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disinformasi berperan sebagai pemicu utama munculnya narasi kebencian, yang kemudian memperparah krisis etika komunikasi di ruang dakwah digital. Bahasa dakwah yang bersifat konfrontatif cenderung membangun dikotomi moral antara “kami” dan “mereka”, memperkuat polarisasi sosial, serta melemahkan prinsip tabligh bil hikmah. Namun demikian, dakwah digital juga berpotensi menjadi instrumen restorasi moral apabila dikelola dengan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin yang menekankan empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi etika komunikasi digital dan penerapan prinsip discourse ethics merupakan fondasi penting dalam membangun ruang dakwah yang beradab dan inklusif di era disinformasi global.Fenomena narasi kebencian di media sosial mencerminkan krisis etika komunikasi yang semakin kompleks di era disinformasi digital. Dakwah yang seharusnya menjadi sarana pendidikan moral kini kerap terjebak dalam retorika polarisatif yang mempersempit ruang dialog keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi narasi kebencian dalam wacana dakwah digital serta mengkaji relasinya dengan krisis etika komunikasi di tengah arus disinformasi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Critical Discourse Analysis (CDA) model Fairclough, penelitian ini menganalisis konten dakwah di platform YouTube, X (Twitter), dan TikTok yang menampilkan ujaran kebencian dan bias ideologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disinformasi berperan sebagai pemicu utama munculnya narasi kebencian, yang kemudian memperparah krisis etika komunikasi di ruang dakwah digital. Bahasa dakwah yang bersifat konfrontatif cenderung membangun dikotomi moral antara “kami” dan “mereka”, memperkuat polarisasi sosial, serta melemahkan prinsip tabligh bil hikmah. Namun demikian, dakwah digital juga berpotensi menjadi instrumen restorasi moral apabila dikelola dengan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin yang menekankan empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi etika komunikasi digital dan penerapan prinsip discourse ethics merupakan fondasi penting dalam membangun ruang dakwah yang beradab dan inklusif di era disinformasi global.

Cara Mengutip
Kholiq, A., & Sutikno. (2025). Narasi Kebencian dan Krisis Etika Komunikasi di Media Sosial: Analisis Wacana Dakwah di Tengah Disinformasi Digital. ALAMTARA, 9(2), 523-533. https://doi.org/10.58518/alamtara.v9i2.4581

Abd. Kholiq

Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah Lamongan

Sutikno

Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah Lamongan

Brugnoli, E., P. Gravino, and G. Prevedello. 2023. “Moral Values in Social Media for Disinformation and Hate Speech Analysis.” Pp. 65–82 in Lecture Notes in Computer Science. Springer.

Cvetkovska, V. 2022. “The Narrative in Digital Space, Hate Speech, Fake News, and Attempt for Their Ethical Cleansing.” Kairos Journal 1(1):99–118.

Essalhi-Rakrak, A. 2023. “#EspañaInvadida: Disinformation and Hate Speech towards Refugees on Twitter – A Challenge for Critical Thinking.” Comunicar 31(74):45–58.

Gracia-Calandín, J., and L. Suárez-Montoya. 2023. “The Eradication of Hate Speech on Social Media: A Systematic Review.” Journal of Information, Communication and Ethics in Society 21(4):563–82. doi: 10.1108/JICES-11-2022-0098.

Kumar, A., and M. K. Maurya. 2024. “Online Public Sphere and Threats of Disinformation, Extremism and Hate Speech: Reflections on Threat-Mitigation.” International Communication Gazette 86(2):233–49. doi: 10.1177/01968599241292623.

Latif, Das’ad. 2024. New Media Dan Dakwah. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Mauliansyah, Fiandy. 2024. Disinformasi Dan Manipulasi Di Media Digital. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia.

Pitaloka, A. A. P. 2022. “The Ethic of Social Media in Responding to Hate Speech from the Perspective of Hadith.” EduSoshum Journal 2(3):53–70.

Ronika, Zita. 2025. Perang Tak Terlihat: Ketika Narasi Menjadi Peluru. Lamongan: CV. Detak Pustaka.

Suparta, Munzier, and Harjani Hefni, eds. 2015. Metode Dakwah. Jakarta: Prenadamedia Group.

Vojinović, M., and T. Davidov. 2022. “Hate Speech and Disinformation Contrary to Ethics and Media Education.” Social Informatics Journal 1(1):43–45.

Zaenab, Cut, Raudatul Munawarah, and Khairatun Nisa. 2021. “Hate Speech To Religion In Social Media: Analysis Of Dakwah Content In The New Normal Era BT - Proceedings Dirundeng International Conference on Islamic Studies (DICIS).” Pp. 129–36 in Vol. 1. Banda Aceh, Indonesia: Dirundeng International Conference on Islamic Studies.

Zahirah, A. 2025. “The Role of Citizens in Countering Disinformation and Hate Speech on Social Media.” Civic Education and Public Policy Journal 7(2):120–36.