Narasi Kebencian dan Krisis Etika Komunikasi di Media Sosial: Analisis Wacana Dakwah di Tengah Disinformasi Digital
DOI:
https://doi.org/10.58518/alamtara.v9i2.4581Kata Kunci:
Narasi kebencian, Etika komunikasi, Disinformasi digital, Dakwah, Analisis wacana kritisAbstrak
Fenomena narasi kebencian di media sosial mencerminkan krisis etika komunikasi yang semakin kompleks di era disinformasi digital. Dakwah yang seharusnya menjadi sarana pendidikan moral kini kerap terjebak dalam retorika polarisatif yang mempersempit ruang dialog keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi narasi kebencian dalam wacana dakwah digital serta mengkaji relasinya dengan krisis etika komunikasi di tengah arus disinformasi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Critical Discourse Analysis (CDA) model Fairclough, penelitian ini menganalisis konten dakwah di platform YouTube, X (Twitter), dan TikTok yang menampilkan ujaran kebencian dan bias ideologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disinformasi berperan sebagai pemicu utama munculnya narasi kebencian, yang kemudian memperparah krisis etika komunikasi di ruang dakwah digital. Bahasa dakwah yang bersifat konfrontatif cenderung membangun dikotomi moral antara “kami” dan “mereka”, memperkuat polarisasi sosial, serta melemahkan prinsip tabligh bil hikmah. Namun demikian, dakwah digital juga berpotensi menjadi instrumen restorasi moral apabila dikelola dengan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin yang menekankan empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi etika komunikasi digital dan penerapan prinsip discourse ethics merupakan fondasi penting dalam membangun ruang dakwah yang beradab dan inklusif di era disinformasi global.Fenomena narasi kebencian di media sosial mencerminkan krisis etika komunikasi yang semakin kompleks di era disinformasi digital. Dakwah yang seharusnya menjadi sarana pendidikan moral kini kerap terjebak dalam retorika polarisatif yang mempersempit ruang dialog keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi narasi kebencian dalam wacana dakwah digital serta mengkaji relasinya dengan krisis etika komunikasi di tengah arus disinformasi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Critical Discourse Analysis (CDA) model Fairclough, penelitian ini menganalisis konten dakwah di platform YouTube, X (Twitter), dan TikTok yang menampilkan ujaran kebencian dan bias ideologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disinformasi berperan sebagai pemicu utama munculnya narasi kebencian, yang kemudian memperparah krisis etika komunikasi di ruang dakwah digital. Bahasa dakwah yang bersifat konfrontatif cenderung membangun dikotomi moral antara “kami” dan “mereka”, memperkuat polarisasi sosial, serta melemahkan prinsip tabligh bil hikmah. Namun demikian, dakwah digital juga berpotensi menjadi instrumen restorasi moral apabila dikelola dengan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin yang menekankan empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi etika komunikasi digital dan penerapan prinsip discourse ethics merupakan fondasi penting dalam membangun ruang dakwah yang beradab dan inklusif di era disinformasi global.
Referensi
Brugnoli, E., P. Gravino, and G. Prevedello. 2023. “Moral Values in Social Media for Disinformation and Hate Speech Analysis.” Pp. 65–82 in Lecture Notes in Computer Science. Springer.
Cvetkovska, V. 2022. “The Narrative in Digital Space, Hate Speech, Fake News, and Attempt for Their Ethical Cleansing.” Kairos Journal 1(1):99–118.
Essalhi-Rakrak, A. 2023. “#EspañaInvadida: Disinformation and Hate Speech towards Refugees on Twitter – A Challenge for Critical Thinking.” Comunicar 31(74):45–58.
Gracia-Calandín, J., and L. Suárez-Montoya. 2023. “The Eradication of Hate Speech on Social Media: A Systematic Review.” Journal of Information, Communication and Ethics in Society 21(4):563–82. doi: 10.1108/JICES-11-2022-0098.
Kumar, A., and M. K. Maurya. 2024. “Online Public Sphere and Threats of Disinformation, Extremism and Hate Speech: Reflections on Threat-Mitigation.” International Communication Gazette 86(2):233–49. doi: 10.1177/01968599241292623.
Latif, Das’ad. 2024. New Media Dan Dakwah. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Mauliansyah, Fiandy. 2024. Disinformasi Dan Manipulasi Di Media Digital. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Pitaloka, A. A. P. 2022. “The Ethic of Social Media in Responding to Hate Speech from the Perspective of Hadith.” EduSoshum Journal 2(3):53–70.
Ronika, Zita. 2025. Perang Tak Terlihat: Ketika Narasi Menjadi Peluru. Lamongan: CV. Detak Pustaka.
Suparta, Munzier, and Harjani Hefni, eds. 2015. Metode Dakwah. Jakarta: Prenadamedia Group.
Vojinović, M., and T. Davidov. 2022. “Hate Speech and Disinformation Contrary to Ethics and Media Education.” Social Informatics Journal 1(1):43–45.
Zaenab, Cut, Raudatul Munawarah, and Khairatun Nisa. 2021. “Hate Speech To Religion In Social Media: Analysis Of Dakwah Content In The New Normal Era BT - Proceedings Dirundeng International Conference on Islamic Studies (DICIS).” Pp. 129–36 in Vol. 1. Banda Aceh, Indonesia: Dirundeng International Conference on Islamic Studies.
Zahirah, A. 2025. “The Role of Citizens in Countering Disinformation and Hate Speech on Social Media.” Civic Education and Public Policy Journal 7(2):120–36.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 ALAMTARA

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Copyright on any article is retained by the author(s).
- The author grants the journal, right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work’s authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal’s published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.
- The article and any associated published material is distributed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License
